Langsung ke konten utama

Gerakan Revolusi Mental Menuju Kebangkitan Umat



Oleh: Nor Aniyah, S.Pd*
.
Pemko Banjarmasin menggelar sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di Kota Banjarmasin dengan mengundang warga, tokoh masyarakat, Ormas dan Komunitas, serta ASN di Balai Kota Banjarmasin, Kamis (27/06/2019). Dalam sambutannya, Wali Kota Banjarmasin menyebutkan revolusi mental adalah gerakan hidup baru dalam menuju berkelakuan lebih baik. Gerakan ini sudah dicetuskan Presiden RI pertama Ir Soekarno. Revolusi mental saat itu agar supaya negara Indonesia menjadi negara yang berdaulat dalam aspek politik, dan mandiri dalam hal ekonomi, dan berkarakter dalam hal sosial budaya. Presiden saat ini pun menyerukan revolusi mental, di mana Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkarakter. Ia melanjutkan, ketergantungan dengan kondisi sekarang, era industri 4.0 ini merupakan langkah yang seharusnya dilakukan dalam revolusi mental (apahabar.com, 27/06/2019).

Gerakan revolusi mental sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019. Karena itu, seluruh masyarakat Indonesia wajib mengimplementasikannya sebagai gerakan hidup baru. Demikian yang dikatakan Walikota Banjarmasin saat membuka Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) lingkup Kota Banjarmasin (kalimantanpost.com, 28/06/2019).

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mengembangkan pemanfaatan teknologi untuk pembangunan ekonomi kreatif. Salah satunya adalah Gathering Positif Bermedia Sosial yang digagas Kemenko PMK, bertujuan untuk mengimplementasikan secara langsung nilai yang ada di dalam program Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam hal ini melalui penggunaan media sosial yang baik. Kegiatan ini merupakan salah satu fokus dari program Gerakan Indonesia Mandiri (menpan.go.id, 26/06/2019).

Penerapan sistem Kapitalisme sesungguhnya merupakan akar masalah munculnya berbagai permasalahan. Saat negeri ini menganut sistem Kapitalisme-demokrasi, maka bisa disaksikan dan dirasakan, aturan yang diterapkan bernapas liberal. Indonesia semakin terpuruk diberbagai dimensi. Pendidikan mahal, ekonomi neolib, perampokan SDA yang dilegitimasi UU, kesehatan sulit, tarif dasar listrik merangkak naik, korupsi merajalela. Musibah dalam bentuk bencana moral pun menggejala. Seks bebas dan narkoba marak. pornografi-pornoaksi dan LGBT mewabah. Negara justru melindungi para pelakunya. Tak heran, lahir berbagai kerusakan di tengah masyarakat yang mengancam generasi negeri. 

Gerakan Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintah hari ini seolah sebatas menyentuh orientasi materi. Mengarahkan individu untuk mumpuni di segala bidang. Harapannya agar rakyat bisa hidup mandiri dan berdaulat. Namun, mampukah Indonesia seperti harapan ini jika saat ini masih bergantung pada asing dan aseng?

Membuat negeri ini sejajar dengan negara lainnya di dunia bukanlah perkara mudah. Butuh kekuatan sistem politik, ekonomi, sosial dan kepemimpinan mumpuni. Negeri ini memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Namun, tingkat ekonominya justru jauh di bawah negara-negara yang minim SDA. Di dalam negeri, rakyat berkutat dengan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial. Sementara, sistem politik luar negeri justru terjebak liberalisasi dan investasi asing, serta terkungkung kebijakan kapitalisme global. Realitas ini harusnya membuka mata kita, bahwa negeri ini di bawah bayangan sistem Kapitalisme tidak sedang meniti jalan kebangkitan, namun tengah meluncur menuju jurang keterpurukan.

Memang, penerapan sistem sekuler yang tak bersumber dari Sang Pencipta pasti akan menimbulkan kerusakan bagi umat manusia di berbagai bidang kehidupan. Karenanya, jika menghendaki perbaikan negeri, segera tinggalkan Kapitalisme. Ganti dengan sistem Islam. 

Sesungguhnya yang diperlukan umat saat ini bukanlah sekadar revolusi mental biasa, tetapi revolusi mental hakiki. Perubahan hakiki seperti yang dibawa Rasulullah Saw yang dapat mengubah bangsa Arab yang penuh kejahilan dan keterpurukan ketika itu, menjadi sebuah bangsa yang berkepribadian luhur dan mampu memimpin dunia dengan gemilang. Perubahan tersebut berpedoman wahyu, bukan sekadar berdasarkan akal atau hawa nafsu. 

Rasulullah Saw telah memberikan gambaran bagaimana 14 abad silam, ketika Islam sebagai agama dan ideologi yang shahih diterapkan dan disebarkan. Maka, sepatutnya kita mengikuti metode yang beliau contohkan. Mulai dari bagaimana Rasulullah Saw membentuk mental dan karakter tangguh para Sahabat dalam berdakwah, hingga mendirikan Daulah di Madinah sebagai negara adidaya dan menyebarkan kerahmatan Islam ke penjuru dunia.

Gerakan revolusi mental kini pun harusnya berupa perubahan mendasar cara berpikir umat agar kembali pada ideologi Islam yang paripurna. Agar tercapai perubahan hakiki pada umat dan kebangkitan umat. Sehingga mampu menjadi negara yang mandiri, berdaulat dan bersaing dengan negara-negara Barat lainnya.

Jadi, jika menginginkan kebangkitan hakiki maka satu-satunya cara adalah mengambil Islam sebagai landasan kebangkitan. Saat ini, umat belum mampu bangkit karena kaum Muslimin tidak menerapkan Islam sebagai ideologi paripurna, hanya sebagian aspek saja. Dengan demikian, sudah selayaknya umat menerapkan kembali Islam secara sempurna (kaffah) agar dapat membawa kita pada kebangkitan hakiki.[] 

#SelamatkanGenerasi #BanuaSyariah #Kalsel

*) Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi. Berdomisili di HSS, Kalsel.

#PerubahanHakikiDenganKhilafah
#RasulullahPemimpinKami
#Khilafah_Pelindungku_Perisaiku
#KhilafahAjaranIslam
#IslamSelamatkanNegeri
#KegelapanMenujuCahaya

_______

Follow, Like, Share, Comment

Muslimah Banua News

@muslimahbanuanews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis.  Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi.  Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)...

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...