Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Wanita Mulia

Karya: Nor Aniyah Keanggunan alami yang terjaga Kau tutupi keindahanmu dengan ketaatan Sebagai teladan generasi kini Wanita mulia sepanjang zaman sejarah Perangai riang mewarna hari Dengan pipi yang sering memerah Cerminan sang Ummul Mukminin muda Berbekal kecerdasan, kepatuhan, dan kealiman Menjadikan insan mulia dalam panutan perbuatan Dunia dan akhirat hanyalah perhiasan biasa Mata hati menyatu bersama langkah petunjuk risalah Wanita dunia patut berkaca padamu Kandangan, HSS, 20 April 2018 *) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Penulis dari Komunitas "Muslimah Banua Menulis"

Balada Seorang Penulis

Sang pengemban sastra Menitipkan niat Saat memulai bagian menggerak bilah tinta dengan sepenuh hati Pada lembaran tipis kehidupan Di ruang kata Kita bertemu memadu Padankan bentuk susunan Kesatuan bait-baitnya dengan perlahan Melekati makna erat Keinginan tulus sang penulis Dalam tiap untaian Tersurat amanat Mengasma keagungan Ar-Rahman Membawa insan mendekat Kembali kenal Sang Pencipta Nor Aniyah Kandangan (HSS),

Inilah Masanya

Masa itu terus mengembara Meninggalkan yang tak mau ikut Beranjak berpindah "Berubahlah jika mau. Menetaplah jika ingin." Sudah satu keniscayaan Inilah masanya Pilihan bermukim atau bergerak Ketika mereka berujar, "Adakah kiranya kembali mengulangi?" Tiada lagi setelah ini Berbahagia yang telah berjalan Terpanalah yang masih berdiam Nor Aniyah HSS, 21/09/2017

Saudara

Aku punya saudara Kau punya saudara Kita adalah bersaudara Tidak hanya beberapa, tapi juga jutaan jiwa Tidak dalam satu negara saja, tapi terpencar di hamparan dunia Akidah yang sama yang satukan kita Harusnya kita saling menjaga Harusnya kita saling membela Karena kau dan aku, kita adalah bersaudara #AkhiriKrisisRohingya #EndRohingyaCrisis Nor Aniyah, Kandangan, 07/09/2017

Karena Peduli

Aku ingin bersuara begini Terhadap apa yang tengah terjadi Yang kini menyentuh geritik hati Dan adalah hak semua untuk lakukan koreksi Ketika melimpah sumber daya alam ini Sepertinya memang bukan punya kita lagi Alam dijarah kaum penjajah luar dan dalam negeri Pemilik asli tak pernah tahu rasa menikmati Ketika mulai dimunculkan ada kriminalisasi Kalangan yang suci pun kini dicaci-maki Yang benar malah digebuk untuk dihabisi Rupanya keadilan sebatas retorika dalam mimpi Ketika melanda krisisnya mental kebanyakan generasi Dan lagi, yang ditampakkan hanya tokoh ilusi Mereka wariskan pemikiran terdikte sekulerisasi Yang dipoles kualitas bagus untuk diimitasi Sudahlah, kenapa tak coba renungi dan pahami? Kenapa tak coba sambut tawaran solusi? Coba mengambil tatananan dunia syar'i Dengan dalil yang qath'i yang sudah terbukti Sudahlah, kenapa tak juga menoleh kembali? Kenapa tak berani berdiri dengan kaki sendiri? Berani menyadari betapa berharap segenap negeri ...

ADA

Hanya ada Jika ingin melaksana Kemungkinan bisa Tak keluh Usaha jauh menempuh Hingga nampaklah Tak ubah Coba menerpa lelah Tetap tabahlah Di mana? Hanya ingin ada Masa bermula _Nor Aniyah_ Kandangan, 24/04/2017

Merah Duka

Saudara kita terluka Berurai air mata Darah merah menyala Di balik kuncup luka yang kian menganga merenggut nyawa-nyawa berharga Ke manakah para tentara? Di manakah penggawa? yang dulu mengobral muka Kenapa semua diam saja Saudara macam apa Melihat mereka kini tersia Mereka tak terpalingkan durjana terkecoh untuk damai sementara Tidak, sekali ini saja Bahkan untuk selamanya Mereka ingini mulia sebagai pemilik syuhada Saudara bagi seorang yang merasa Ada jiwa dalam dada Mereka menjerit hilang suara Untuk segera sirna derita Adakah terketuk sukma Kenapa kita tak bersegera? Nor Aniyah Kandangan, KalSel 21/12/2016 #AleppoIsDying #Khilafah2Aleppo #SaveAleppo #IslamRahmatanLilAlamin

Bela Quran

Bila sikap sudah menjadi tanya. Bagaimana kasus ini akan dibawa? Engkau coba membendung gerak massa. Efek fatalnya jua akan membuka mata. Langkah menuntun kesatuan insan taqwa. Lautan iman bermuara akidah yang sama. Apakah kita ada di barisan para penghina yang nista. Ataukah ada di barisan para pembela yang mulia? Quran datang dari Allah Ta'ala. Quran pedoman hidup hamba. Ulama yang jadi pewaris Al-Anbiya'. Umat bersimpul pada katanya. Ruh kebenaran telah bangkit bersuara. Raga yang meradang kala mereka dihina. Aduhai, waspada orang yang celaka. Alamat dirimu kena murka. Niat suci untuk terapkan hukum Quran-Nya. Nyawa kami sedia untuk menolong agama-Nya #BelaQuran #KapolriTangkapAhok #GantiSistem Nor Aniyah Kandangan (KalSel), 04/11/2016

Percaya

By: Nor Aniyah Baru pagi tadi kudengar sebuah nama Dari mana mulai kukenal? Bertemu pun sebentar saja Dan hanya sekali ini Bagaimana aku percaya? Kupikir hubungan sekadar basa basi Namun, sungguh polos tulus Kejujuran tak dibuat-buat Nampaklah benar di sana Kemurnian apa adanya Rasanya yang terjadi ini keajaiban Saling bergurau seperti keluarga Rahim berbeda sedarah tidak Seriak canda dapat leburkan Rangkaikan percaya ukhuwah Kandangan (KalSel), 28/09/2016

Kau Berharga Bagiku

by: Nor Aniyah Apa yang kau katakan itu Biarpun orang menganggap aneh dirimu Biarpun orang tak mengacuhkanmu Biarpun orang mencibirmu Teruslah untuk maju menyeru Mungkin kini mereka perlu pemahaman Belum tahu yang kau maksudkan Kau kelak pasti akan menangkan Hati yang tulus bertautan iman Teruslah kau husnudzan Di antara kebanyakan mata Siapa bilang kau tidak berharga Kau bagiku lebih dari mereka Orang yang punya terbaik kata Teruslah sampaikan pandangan mabda Kandangan (KalSel), 19/09/2016

Beban Negara, Derita Rakyat Negeri

by: Nor Aniyah Sebagaimana yang telah diketahui sumber pemasukan utama APBN negeri yaitu pajak dan utang ribawi Utang ribawi dengan bunga yang sangat tinggi Terjerat lingkaran setan utang luar negeri Lagi, lagi dan lagi Terus jadi beban negara dan derita rakyat negeri Rakyat harus menanggung rugi Pajak yang akan terus dipunguti Jelas, utang ribawi termasuk dosa besar sekali Allah tegas mengharamkan riba ini Rasulullah pun menyatakan satu dirham ribawi sungguh lebih besar dari zina tiga puluh enam kali Pelakunya layak untuk disanksi dicambuk seratus kali atau dirajam sampai mati Kebanyakan rakyat negeri pun memahami bahwa negeri ini sangat kaya emas murni perak, minyak, tembaga, batubara yang tersembunyi serta pohon hutan dan ikan laut yang melimpahi Lantas, ke mana hasil dari semua itu pergi? Memang, sebagian besar harta milik rakyat negeri sudah lama berada dalam genggaman privatisasi pihak swasta teruma pihak asing kompeni Para pencuri berkedok investasi Ke...

Ranum Surga

by: Nor Aniyah Kilauan merah delima Menyibak goresan wajah kehidupan Hasrat bermandikan gemilang takwa Keringat tulus meminang surga Kesungguhan ini berharga Semahal mutiara bahkan lebih lagi Janji harapan memukau diri terus berjuang Meraih nilai impian menjadi tujuan kebanggaan Terjaga akal dan perbuatan insan Laksana rupa yang dirias memesona Muka dambaan tersenyum manis Tak ternilai dengan selaksa gugusan bintang Oh, ranum surga penuh pengorbanan Kapankah aku akan memetiknya? Bersama doa asa menjadi tersadar Menggembirakan hati pemilik harapan luas Kandangan, 24 Mei 2016 *Dalam antologi kumpulan puisi Penyair KalSel bersama Tadarus Puisi 2016 "Melepas Tubuh dalam Cahaya"

Rindu Cahaya

by: Nor Aniyah Sayup terdengar merambati penjuru Di balik lembah padang ilalang Menggemercikan air tepian hati seirama Tentang cerita semburat sore ini Kenangan yang menjumpai lewat desiran angin Nyayian agung itu mulai bersenandung Melukiskan rindu cahaya terang Kemenangan mimpi akan segera terwujud Hal yang dulu pergi kini akan kembali Tak sabar menantikan kehadiran Membasuhkan diri pada aliran sungai Seakan semangat juang berdebar-debar Masuk perlahan melewati jemari kuku Melekati kulit membentuk susunan baru Memberi tambahan energi yang dulu redup Terbayang raga dikelilingi sinar Seberkas harapan yang mendekat Membuat batin setuju masalah penerapan menjadi sebab Menatap sebuah kekhususan itu Qalbu ridha akan bersujud penuh syukur Ada masa untuk lakukan perbaikan tubuh Diri yang lunglai kembali bangkit kokoh Riang rasa penuh takzim Semakin membarakan jiwa penghambaan Cahaya dari-Nya itu akan disebar di bulan ini Kandangan, 23 Mei 2016 * Dalam antologi kump...

Terkecil Hingga Terbesar

by: Nor Aniyah Sungguh benar Yang Maha Besar yang telah mencipta Makhluk-makhluk di alam semesta dari ukuran terkecil hingga yang terbesar Ada yang dapat nampak dipandang namun ada pula yang bisa dilihat tatkala dengan bantuan alat Tampak unik semuanya berlangsung Manusia, hewan, tumbuhan, bahkan fungi dan bakteri sudah punya ciri tersendiri berlainan satu dengan yang lain Ya, semua yang ada di bumi Mesti berperan sesuai fungsi Aturan penting agar tertata putaran mata rantai dunia kita Sungguh, sempurna menakjubkan bersyukurlah kita diberi-Nya nikmat dengan menjadi hamba yang taat pada Al-Khaliq dalam jalani kehidupan Kandangan (KalSel), 10/09/2016

Para Wanita Negarawan

by: Nor Aniyah Para wanita yang dinantikan Penerus amanah risalah perjuangan Pendobrak kelamnya keterpurukan Pencetus jalan terang perubahan Pemilik tingginya keilmuan Penggerak arus opini zaman Pencetak generasi penakluk kehidupan Pengukir indah tinta emas peradaban Para wanita tangguh dan beriman Punyai kedalaman tsaqofah bagi permasalahan Penuh kepekaan politik ideologis kekinian Padanya tampak kepedulian keumatan Pengemban Islam nan berani telah terpatrikan Penegak kemakrufan pencegah kemungkaran Patutlah kini menjadi teladan kemuliaan Para wanita negarawan Kandangan (KalSel), 08/09/2016

Saudara Jauh

by Nor Aniyah Terpisah rumah antara dua pulau bahkan lain benua berani mengungsi seorang diri dari tempat yang sempat terlupakan Saudara jauhku yang asing Rupamu tak pernah terlintas Namamu pun aku tak tahu Benarkah kita saudara? Saudara baru berbaju kotak bergaris Orang bilang dia teman makhluk yang aneh, benarkah? Via mata mendeteksi lama dia menunggu datangnya tugas lalu tergesa pergi bergegas dengan buku-buku di tangan Tunggu sebentar, saudaraku! utarakanlah sesuatu padaku! jujur atau dusta tentang rahasia di balik dunia Anggap saja kita saling kenal bagai adik dan kakak Membina hubungan jarak dekat Agar kutahu yang kauperlukan Walau bukan terlahir satu rahim Namun kabarnya dulu kita pernah hidup bersatu serumah, benarkah? Walau sempat lupa Kukenal lagi kau lewat percakapan Rupaya ada yang sama saudaraku kita sehaluan, Ummatan wahidan Kandangan (Kalsel), 02/07/2016 *Dalam kumpulan Puisi Peradaban Mulia

Harmoni Nada

by: Nor Aniyah Kerinduan peristiwa menumbuh tunas Letak lauh harmoni yang membekas Tentang kedatangan nada itu sekarang Kenangan masa kita berjuang Senyum kala mulai berkata-kata Tertambat cerah oleh kelopak mata Kita kini bersandingkan dalam kesamaan Semangat kita bangkitkan nyala kobaran Menderu bara tegar berdiri tegak Manis pekat asa Ilahi tambah menyeruak Nyatakan ingatan merajut mimpi lampau Kelak buktikan anugerah-Nya akan kembali memukau Kandangan (KalSel), 19/08/2016

Sang Mujahid Pena

by: Nor Aniyah Ketika kudengar nama Itulah gambaran tentang dia Kesatria berjiwa pemberani Insan penyambung kalam ilahi Sang mujahid pena Beratnya aral tak patahkan batang asa Siratan rahasia tangguh Bertarung berasas nilai ruh Sang mujahid pena Pemancang tonggak mulia Saatnya tajamkan ujung pikir Penuhi hamparan pandang hulu hilir Warnamu jelas memberi rupa Yakinkan girah untuk membela Wakili tetes tinta perjuangan Yang pernah pendahulumu wasiatkan Kandangan (KalSel), 14/08/2016

Hari Tanpa Ibu

by: Nor Aniyah Bocah penjaja gorengan Mendekati kerumunan orang Memikul bawaan tergopoh Potongan berminyak hangat Mencoba menawar perut Pada terminal para pengembara Bocah penjaja gorengan Tampak kurus tak terurus Rambut acak-acakan Kaki dan tangan kumal berdebu Seharian mengais penghidupan Apakah kau lelah? Dik, sungguh kau ini tangguh Di usia begini berjuang Mencukupi hajatan Membanting tulang Semoga teraih kelak Cerita indah yang kau impikan Bocah penjaja gorengan Kau sumringah pergi Menggenggam kepingan rezeki Menenteng langkah berlalu Beringsut masuk gang sempit Kau mau ke mana? Bocah penjaja gorengan Aku terkejut menemukanmu Kau ada di ujung lorong Apa yang kau perbuat ini? Merokok, bermabukan Bergaul segerombol pecundang Dik, mengapa kau di sini? Tempatmu bukan di sini Demi kebaikanmu Pulanglah! Nanti kau dicari ibumu Banyak yang menunggumu di rumah Tidak, aku ingin di sini! Pergi! Aku nyaman di tempat ini Tak ada yang akan mencariku Ibuk...

Padamu Ayahku

by: Nor Aniyah Matamu yang redup Telah menanarkan hati Menggulung relung kenangan Tentang membulatkan sebuah harapan Tubuhmu semakin renta Penuh guratan senja Kelopak yang pudar Tubuhmu terbakar terik Menggandeng lengan legammu Ada kekuatan Mendorong agar aku berani menatap Jalan panjang yang harus kuhadapi Ayah, aku bangga mengucapkan namamu Sebuah kehormatan menggemakan Aku ini anakmu Mewarisi jati dirimu yang kokoh Ke mana pun kupergi Kau selalu kubawa dalam ingatan Kusebut dalam doa terbanyak Dalam rangkaian kalimat terbaikku Kandangan (KalSel), 09/08/2016