Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Artikel

Tua Muda Tetap Nulis

Oleh: Nor Aniyah Ada yang menyangka urusan tulis-menulis atau karang-mengarang itu untuk yang muda-muda, yang remaja saja. Seakan-akan hanya ditujukan buat kalangan mereka, yang tua mengalah. What ?  Banyak hal yang seolah jadi pembenaran akan ini. Memang kebanyakannya kegiatan nulis tak cukup akrab dengan mereka yang telah dewasa usianya. (Kalau nggak mau dibilang tua. Hehehe).. Kalangan dewasa seakan telah disibukkan dengan banyak hal. Urusan kerja, nyari nafkah atau mengurus rumah tangga misalnya. Rasa-rasanya, nggak ada waktu lagi buat nulis.  Nah, pemikiran semacam ini sudah seharusnya kita ubah dan diperbaiki. Kenapa? Pasalnya, menulis itu kan kegiatan yang tak memgenal batasan usia. Baik kaum hingga kaum tua sekalipun tak masalah, silakan menulis.  Oiya, bukan sebuah hal yang aneh lagi, jika ada orang yang sudah berusia lanjut, tapi dia tetap menulis dan menghasilkan karya. Misalnya, Marion Howard Spring yang menulis novel " Elevent Stories and a Begining" ketika ...

Ilmu yang Harus Diamalkan

Oleh: Nurul Hidayah Wahb bin Munabbih berkata, “Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyatul Auliya’ , 4: 71). Kita sebagai Muslim sudah tahu tidak boleh pacaran. Kok, masih berpacaran? Buat apa kita mempelajari ilmu agama, kalau tidak memahami dan tidak mengamalkannya. Mungkin akan ada banyak orang yang masuk neraka, karena dia hanya bisa membicarakan orang. Sedangkan dirinya dan keluarganya sendiri tidak diurusi. Membiarkan berakhlak yang buruk. Mendiamkan mereka berbuat maksiat. Jika kita ingin menjadi anak yang sholihah, maka tak cukup diri sendiri. Haruslah juga agar keluarga kita dididik biar sholihah. Kemudian, berusaha menjadikan anak-anak dan masyarakat di sekitar juga sama, sholihah. Nah, menulis bisa sebagai sarananya. Menulis itu bisa menambah wawasan kita, sekaligus menambah ilmu agama. Serta, bisa memotivasi orang lain ke jalan yang benar. All...

Islam untuk Mengatur Kehidupan

Oleh: Anita Indriani Islam adalah agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk mengatur segala kehidupan. Bisa hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan manusia yang lain. Juga hubungan dengan diri sendiri. Ketika kita memiliki masalah, maka selesaikan sesuai dengan aturan Allah SWT. Kalau tidak, bisa banyak yang stress hingga menyebabkan bunuh diri. Indahnya Islam jika kita ikut aturan, hidup jadi lebih tenang. Islam sebagai yang mengatur. Syariat Islam juga adalah aturan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk umat manusia. Agar manusia dapat hidup dengan tenang. Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu." (HR. Turmudzi) Untuk tahu apa saja aturan Allah SWT pun kita harus tahu ilmunya. Harus mencari ilmu. Karena ilmu sangat bisa menjadi amal untuk k...

Perkataan Menunjukkan Pemikiran

Kita secara fitrah suka mendengar yang baik. Tapi, kadang kita temukan yang berkebalikan. Terutama di sosial media, kita ingin dapatkan info berguna dan ilmu buat takwa. Tapi, kadang ruang ini sampai kayak jadi kebun raya. Karena masing-masing mengucap nama-nama penghuninya. Yang sebenarnya nggak layak disematkan buat manusia. Padahal kan, tiap sikap kita mencerminkan siapa diri kita. Termasuk juga perkataan atau pernyataan kita, hal itu menunjukkan apa yang ada di dalam pikiran kita. Apa nggak nyadar kalau ucapan buruk itu "menjadikan diri sendiri buruk?" Belum lagi, orang-orang yang jadi tersinggung dengan ucapan itu. Wah! Bisa-bisa tiap hari nambah musuh. Apalagi dosa-dosa yang makin bertambah dicatatkan akibat berkata asal-asalan. Apakah kita nggak sempat terpikirkan yang seperti ini? Sayang bangetkan! Saat dulu belum ngaji pun, aku juga tergolong yang nggak sabaran. Suka berucap sekehendak hati. Yang mana yang benar menurutku, maka itulah yang kupertahankan mati-matian...

Menulis Cerita Fiksi, Boleh Nggak?

by: Nor Aniyah Bagi kita yang suka menulis cerita bergenre fiksi seperti cerpen, novel, dan lain-lain. Adakalanya galau. Tersandung sebuah pertanyaan. Kira-kira menulis cerita fiksi itu boleh nggak? Gimana ya hukumnya menurut Islam? Nah, biar jelas yuk sama-sama kita simak! Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai hukum membuat kisah fiksi (qashsash khayaaliyyah); Pertama, ada ulama yang mengharamkan, karena dianggap membuat kebohongan (al kadzib). Kitab Fatawa Lajnah Da`imah (12/187) menyatakan, “Haram bagi seorang Muslim untuk menulis kisah-kisah bohong (fiksi), karena dalam kisah-kisah Alquran dan hadits Nabi dan yang lainnya yang menceritakan fakta dan merepresentasikan fakta, sudah cukup sebagai pelajaran dan nasihat yang baik.” Kedua, sebagian ulama membolehkan, seperti Syeikh Ibnu Utsaimin, dengan syarat isi cerita fiksi menggambarkan hal-hal yang boleh (jaiz) menurut syara’, tidak menggambarkan hal-hal yang diharamkan, dan secara jelas menyampaikan ...

"Waktu, Tunggulah Aku!"

by: Nor Aniyah Waktu adalah suatu hal yang berharga bagi sebagian orang. Sehingga jika kehilangan, maka akan menimbulkan penyesalan. Seberapa pentingkah waktu? Ya, sangat penting. Begitu pentingnya waktu, sampai Allah SWT pun bersumpah demi waktu. "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (TQS. Al-Ashr [103]: 1-3). Jadi, apakah waktu yang kita punya sudah digunakan dengan sebaik-baiknya? Entah mengapa, sepertinya waktu terlalu cepat. Seakan waktu mau habis. Berlalu begitu saja. Tak terasa sudah bergelut bersamanya seharian. Saat mau beraktivitas yang lain, tahu-tahu sudah menjelang malam. Wah, sepertinya waktu berputar sangat cepat. Rasanya baru kemarin liburan, eh sekarang kembali ke awal pekan. "Hai, waktu bisakah kamu menunggu sebentar? Aku tak bisa mengejarmu." Wah, mungkin ...

Pentingnya Persiapan

by: Nor Aniyah Dalam hal apapun persiapan mutlak diperlukan. Tidak asal-asalan. Melakukannya dengan sebaik mungkin, sehingga bisa meraih hasil yang terbaik. Benar kan? Ibarat mau bertempur, harus menyiapkan alat-alat untuk berperangnya. Dengan semaksimal mungkin. Kalau tidak, bisa-bisa akan babak belur, dihabisi musuh. Nah, mungkin masih ingat, saat dulu ujian akhir sekolah, atau ujian semesteran kuliah? Tentu belajar habis-habisan. Rela bergadang, menahan kantuk semalaman, untuk persiapan. Ya, ini sih bagi yang memilih sistem kebut semalam. Kalau jauh hari menyiapkan, tentu hasilnya pun sesuai harapan. Hasil yang bagus, memuaskan. Karena punya persiapan matang. Contoh lain, misalnya ibu-ibu muda. Saat mau masak harus menyiapkan, bahan, bumbu dan peralatan dapur. Mau ke pasar pun, perlu menyiapkan ceklist barang yang mau dibeli. Biar bisa fokus! Persiapan penting dilakukan untuk memudahkan mencapai tujuan. Dengan persiapan tidak akan ada yang terlupa, atau tertinggal. Dengan pers...

Akan Bertemu Jodohnya

by: Nor Aniyah Ada kecemasan yang merambati hati. Terasa lama menanti. Namun, tidak kunjung datang. Yang dicari pun masih tidak ketemu juga. Menunggu tahunan, bahkan bisa puluhan tahun. Sampai kapan mesti menunggu? Kadang kita akan merasa sedikit kecewa. Karena bisa saja yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ini sungguh di luar kekuasaan. Ada di wilayah sisi yang lain. Bersabarlah. Ya, mungkin seperti itu juga dalam menulis. Sering dialami penulis pemula. Tulisan kita masih belum juga tembus ke penerbit. Nah, karena sedikit kurang sabar. kita buru-buru putus harapan. Membatalkan diri untuk melanjutkan. Merasa yang dilakukan akan sia-sia saja. Akhirnya, putus di tengah jalan. Merasa belum berjodoh. Menurut saya hal terpenting, jalani saja prosesnya. Berdoa dan bertawakal. Menyelesaikan hingga tuntas. Melakukan apa yang kita bisa. Namun, kita tetap yakin bahwa semua orang akan bertemu jodohnya. Karena jodoh itu termasuk juga rezeki. Masing-masing orang punya rezeki sendi...

Belajarlah pada Semut!

by: Nor Aniyah Melihat semut yang berbaris di lantai tengah memunguti remah-remah sisa makanan. Unik sekali! Tubuh-tubuh mungil itu merayap perlahan. Mengangkat bahan-bahan makanan ke sarang. Semua semut menjalankan tugasnya mengangkat makanan tersebut dengan bersemangat. Penuh kerjasama. Wah, kompak! Tampaknya kita perlu juga belajar dari semut. Mengambil ibrah. Demikian pun patut kita perhatikan dalam dakwah, kita juga harus bekerjasama. Agar target dakwah lebih terorganisir, maka haruslah berdakwah secara berjamaah. Dan salah satu sifat yang harus kita miliki sebagai seorang pengemban dakwahnya adalah mau untuk saling bekerjasama. Ingatlah! Allah SWT pun memerintahkan kita untuk berdakwah secara berkelompok. Dengan berkelompok dakwah kita akan menjadi lebih mudah. Selain itu, juga dalam hal melaksanakan berbagai agenda, semua hal yang kita lakukan akan terasa lebih mudah dan ringan. Sebagai seorang pengemban dakwah profesional, kita harus mau bekerja sama dengan teman sesama pen...

Ikhlas Menerima Kritik

by: Nor Aniyah Padahal biasa saja sih! Tapi, di telinga terasa jadi kata yang berapi. Terasa panas sampai ke ulu hati. Mendidih! Mencoba ikhlas saat dikritik, awalnya memang berat. Saat ada yang mengingatkan, rasanya kayak jadi lawan. Musuh yang mengajak duel. Naluri mempertahankan diri (gharizah baqa'), kian bergejolak. Oke. Tenang. Dengarlah dulu isi pembicaranya, bisa jadi ada baiknya, ada benarnya. Tapi, karena sudah terlanjur dongkol duluan. Yah, kebaikan yang mau masuk malah mantul lagi. Dengarlah, sekalipun bila yang mengkritik itu musuhmu. Maka, mungkin ia akan mengungkapkan yang sebenar-benarnya kejelekanmu. Ya, bisa jadi, benar. Nah, sekarang cobalah untuk mendengarkan sepatah kata dari orang lain. Mereka bisa membantu mengkritik dan mengoreksikan kekurangan. Sehingga kita pun bisa memperbaikinya. Ikhlaskanlah menerima kritik demi kebaikan. Tidak selalu yang mengkritik itu karena membenci kita. Namun, yang kebanyakan adalah kritik itu karena peduli. Demikian bentu...

Maksimalkan Masa Muda

by: Nor Aniyah Wah, asyik sekali tampaknya! Tidak hanya remaja saja, namun yang sudah dewasa pun ikut menikmati. Bermain game di gadget. Sekarang anak balita pun sudah terbiasa memegang benda berteknologi canggih itu. Balita ikut main game. Nah, orang tua harus selalu mengawasi, agar tak sembarang main dan agar tidak sampai lupa waktu. Karena yang kecanduan main biasanya merasa baru sebentar. Padahal, waktu yang dihabiskan ternyata sudah berjam-jam. Cuma untuk bermain saja. Hingga terlena dan terlalaikan. “Refreshing dari rutinitas. Di tengah tugas yang bertumpuk. Tak apalah sekedar melepas penat. Memilih main game salah satunya,” kilah mereka. Sebenarnya, bermain hukumnya mubah (boleh) saja, asalkan tidak bertentangan dengan hukum syariah Islam. Nah, secara umum, permainan yang sesuai syariah Islam wajib memenuhi 3 (tiga) syarat yaitu: Pertama, harus halal secara syariah, misalnya olah raga lari, memanah, renang, dan sebagainya. Jadi tidak boleh berupa sesuatu yang ha...

Setiap Hal Adalah Kebaikan

by: Nor Aniyah Ini yang sering kejadian di kalangan kaum wanita. Ditimpa sedikit musibah, langsung marah. Sering ngomel karena antrian lama. Hari lagi panas terik. Aduh! Jadinya, mengeluh. Namun, pas lagi dapat arisan. Senangnya minta, ampun! Sampai meluap-luap. Sebagai ungkapan rasa syukur, langsung pergi berbelanja. Wah, bagaimana nih? Nah, Muslimah. Saat sedang marah meluapkan emosi. Mau ngomel sampai seharian juga tidak akan mengakhiri masalah. Malah semakin memperburuk keadaan. Masalah menjadi bertambah runyam. Ekspresi sedih, menangis, tawa, bahagia, atau sebagainya sebenarnya merupakan ungkapan sikap kita saat menghadapi keadaan. Ini hal yang alamiah. Kita tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa pun yang menimpa kita. Namun, bagaimana sikap kita dalam menghadapinya lah yang akan ditanya. Di-hisab oleh Allah SWT. Apakah terhadap hal itu, kita mau menerima atau tidak. Kita ridha atau marah. Kita bersyukur atau kufur. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan Kami beri...

Jalan Dakwah

by: Nor Aniyah Dakwah adalah jalan cinta yang dilalui oleh para insan, yang mengaku cinta pada-Nya. Benarkah kita mengakui telah mencintai? Mungkin di sinilah kita berusaha menunjuk bukti. Dakwah wujud sayang pada orang-orang di sekitar, khususnya seluruh Umat manusia. Benarkah kita sayang pada mereka? Maka, dengan dakwah kita bisa mengungkapnya. Dakwah membuat hidup berarti. Karena keberadaan dakwah, nyawa jadi lebih bermakna. Kehidupan kita jadi punya tujuan. Dakwah menjadi poros hidup. Padanya bermuara segenap aktifitas. Sehingga, sejatinya bukan dakwah yang memerlukan kita, tapi kita yang perlu dakwah dalam hidup. Dakwah merupakan perniagaan yang menguntungkan. Orang yang meninggalkan dakwah, akan termasuk ke dalam golongan orang rugi. Dia melewatkan kesempatan emas, meraup pahala yang berlimpah, tak terhingga. Dakwah adalah sejatinya ia sebuah kewajiban. Maka, waspadalah yang mengacuhkan. Bahkan ia terancam, termasuk orang-orang yang tercela, karena membiarkan kemaksiatan. ...

Muslimah dan Dakwah

by: Nor Aniyah Menjadi Muslimah pengemban dakwah? Wah, ini memang tantangan yang cukup berat. Terutama bagi yang berkeluarga. Harus belanja, masak, menyiapkan perlengkapan anak, mengurus suami dan lain-lain. Ini sebuah amanah juga, sebuah kewajiban menjadi ibu manager rumah tangga. Tapi, bagaimana dengan dakwah? "Aduh, ribet! Urus masalah sendiri sajalah dulu. Nanti, kalau beres, baru!" Ini satu contoh pernyataan yang dilontarkan kaum Muslimah. Ya, ada batu ganjalan, menghambat melakukan gerakan. Berpartisipasi dalam dakwah. Ternyata, kalau dipikir-pikir, memang selalu ada hal yang merintangi. Ada saja masalah. Tapi, sebagian Muslimah yang lain, kok bisa dakwah? Bagaimana supaya mudah berdakwah? Nah, ada satu solusi jitu. Mantapkan niat. Ya, jalan mudahnya, yaitu dengan niatkan dakwah sebagai jalan hidup. Dakwah, jalan yang akan kita lalui disepanjang kehidupan. Yang tidak terpisahkan. Insya Allah, dengan begitu akan nikmat menjalaninya. Perlu kita ingat terus, bahwa ka...

Islam Memuliakan Wanita

by: Nor Aniyah Wanita adalah makhluk yang didesain sangat unik. Istimewa. Mulai ujung ke ujung. Dari sisi ke sisi.  Semua bagian, tampak menarik. Sungguh sedap dipandang! Allah SWT menjelaskan: "Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam (manusia)." (TQS. Al-Isra [17]: 70) Sang Pencipta, Allah SWT yang telah anugerahkan semua pada wanita. Dia pun ingin agar keindahannya tetap terjaga. Tak akan layu sebelum berkembang, tak direnggut sebelum waktunya tiba. Hanya yang layak, yang boleh bersamanya. Tentu, dalam ikatan suci hanya karena-Nya pula. Allah SWT telah berikan aturan terkait hal ini untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita. Dalam pedoman hidup kita, Islam. Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka mengajak pada yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan ...

"No, Comment!" Boleh Nggak Ya?

by Nor Aniyah Pernah dengar nggak reaksi orang-orang kalau ditanya atau dimintai tanggapan? Biasanya sih banyak di antara mereka yang bilang, "No, comment.. No, comment!" Sebenarnya apa sih artinya itu? Nah, biasanya neh "No, comment" ini artinya identik dengan "nggak ada komentar deh." Oke, oke aja. Atau "terserah kamu saja deh!" Ini bisa jadi terkesannya, kamu-kamu, aku-aku. "Lue, gue" gitu. Wah, kira-kira nih, yang begini, boleh nggak ya? Oke, Muslimah, kalau sekali-kali mungkin boleh lah kamu berujar kayak gitu. Misalnya, saat buru-buru. Mau ada urusan dulu. Tapi, kalau keterusan, ini bisa bahaya juga! Lho kok, gitu? Iya. Kalau keterusan, alamat kamu harus hati-hati. Apalagi dilakonin sama kaum muda sepertimu. Waspadalah! Bisa dibilang terlalu sering "no coment" itu, alarm kalau kita cenderung sudah nggak mau tahu. Rasa peduli kita sudah mulai luntur. Jangan-jangan, nama tetangga di samping rumah saja nggak tahu? Gaw...

Menulis Itu, Berbagi

by: N or Aniyah "Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya perasaan tidak senang hilang dari kalian. Dan hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai." (HR. Malik) Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda: "Kalian harus saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai." Kita tentunya ingin saling menyayangi yang biasanya dapat diutarakan lewat memberikan hadiah. Pada teman atau saudara. Namun, tidak bisa memberikan hadiah. Uang terbatas. Saat tidak punya uang juga tidak bisa. Yah, mau gimana lagi. Hehehe.. Bagi kita yang suka berbagi. Kabar baiknya, ada juga yang bisa kita bagi-bagikan, yaitu ilmu. Ilmu bisa kita dibagi-bagikan pada semua. Malah kalau ilmu dibagikan tidak akan berkurang tapi akan terus bertambah. Oiya, Muslimah lewat mana membagi ilmu? Yap, lewat tulisan, salah satunya yang saya maksudkan. Percaya deh! Tulisan kamu yang sealenia pun bisa sampai ke berjuta-juta orang di dunia, kalau mereka membacanya. ...