Langsung ke konten utama

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd*


Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis. 


Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi. 


Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).


Sayangnya, kini penguasa berlepas tangan dalam menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat. Mengabaikan hak-hak mereka dan membiarkan mereka berjibaku memenuhi kebutuhannya. Hingga kemiskinan dan kesengsaraan pun menimpa rakyat. Tentu permasalah ini tidak akan pernah tuntas jika rakyat berupaya sendiri. Padahal, kesejahteraan keluarga tidak bisa terlepas dari tanggung jawab negara. 


Bagaimanakah caranya, agar kita bisa mengubah keadaan ini? Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka mengajak pada yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan segera diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (TQS. At-Taubah [9]: 71). 


Perempuan sebagai bagian dari masyarakat, sehingga perempuan juga mampu menjalani kewajiban berdakwah. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang termasuk dalam aktivitas politik. 


Islam telah mengajarkan kepada kaum muslimah untuk menjalankan peran yang sesungguhnya, sehingga akan bisa menjadi umat yang terbaik. Peran perempuan dalam mengembalikan kepemimpinan Islam haruslah sesuai dengan metode kenabian. Tanpa meninggalkan tugas utamanya, perempuan dapat berdakwah dan bergabung dengan kelompok dakwah yang memiliki visi dan misi yang benar. Kapanpun, di manapun, dan dalam posisi apapun. 


Kaum perempuan adalah pendidik generasi masa depan. Para muslimah berperan menjadi ibu generasi penjaga peradaban (ummu ajyal). Secara individual, muslimah mendidik anak di rumah sebagai ummu wa rabbatul bayt, yakni menjadi ibu dan istri. Inilah peran mendasar yang telah diberikan oleh Islam kepada kaum perempuan. 


Kemudian, secara komunal, muslimah juga memiliki peran sebagai pembina generasi di ruang publik sebagai ibu generasi. Pertama, membina dirinya bersama jama’ah dakwah yang mukhlish di tengah-tengah umat agar membentuk dan menguatkan kepribadian Islam. Kedua turut berjuang membangun kesadaran politik umat dan generasi, dengan melakukan koreksi terhadap penguasa dan membangun kesadaran umat. Yaitu, menyadarkan tentang bagaimana seharusnya memelihara urusan masyarakat dengan syariat Islam secara kaffah (totalitas). Sebab, dengan ketidaksempurnaan penerapan sistem Islam di tengah kehidupan seperti sekarang, kerusakan di tengah kehidupan justru makin bermunculan.


Kondisi keterpurukan saat ini mestinya membuat umat Islam semakin merindukan hadirnya Islam. Kehidupan yang diatur dengan syari’at Allah SWT. Kehidupan yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang menjaga syari’at Islam dan menyatukan seluruh umat Islam. Inilah sistem Khilafah yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Saw akan kembali menaungi umat manusia dengan mengikuti metode kenabian. 


Khilafah yang akan menerapkan syari’ah secara sempurna, mengatur segala kepentingan masyarakat, menyejahterakan dan memenuhi semua kebutuhan rakyat. Sistem Khilafah adalah satu-satunya yang mampu menangani dengan kredibel dan memberikan solusi praktis untuk berbagai masalah politik, ekonomi dan sosial yang saat ini menimpa perempuan di seluruh negeri-negeri Muslim dan di seluruh dunia, termasuk para perempuan di Indonesia. 


Kita sadari, menegakkan Khilafah memang membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan seluruh umat Islam. Karenanya, aktivitas dakwah harus terus digerakkan di tengah umat dengan tujuan memahamkan dengan syari’ah Islam, hingga mereka merindukannya, mengadopsi dan menginginkan penerapannya, atas dorongan keimanan. 


Oleh karena itu, untuk mewujudkan kemuliaan hidup yang sejati, sudah selayaknya seluruh umat Islam, termasuk kaum perempuan meninggalkan sistem Kapitalisme-Demokrasi dan kembali kepada sistem Islam. Perempuan harus berkiprah di tengah-tengah umat dan turut membangun masyarakat, serta terlibat aktif dalam aktivitas dakwah politik menuju kebangkitan yang hakiki.[] 


#PerempuanRinduKepemimpinanIslam  #PerempuanButuhPemimpinJujurdanAmanah

#PerubahanHakikidenganKhilafah

#KhilafahAjaranIslam

#IslamSelamatkanNegeri


--------


Follow, Like, Share, Comment

Muslimah Banua News

@muslimahbanuanews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...