Langsung ke konten utama

Persatuan di Bulan Ramadhan

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd

Bulan Ramadhan kembali datang menemui kita. Ramadhan memang bulan penuh berkah. Berkah, bertambahnya nilai kebaikan yang dilakukan di dalamnya. Sehingga jangan sampai dibiarkan bulan Ramadhan tahun ini kembali berlalu begitu saja.

Salah satu makna di bulan Ramadhan adalah adanya kesatuan kaum Muslim. Kesatuan mengawali dan mengakhiri Ramadhan merupakan hal yang penting dan wajib. Agar terhindar dari keragu-raguan dan perselisihan.

Sabda Rasulullah saw: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika pandangan kalian terhalang, sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Awal dan akhir Ramadhan harusnya ditetapkan berdasarkan pantauan bulan (ru’yatul hilal). Mayoritas ulama berpendapat bahwa; jika suatu negeri berhasil melihat bulan, hasil pantauan hilal negeri itu berlaku bagi seluruh kaum Muslim di dunia, tanpa memperhatikan perbedaan mathla’ (tempat bulan terbit) maupun batas negara.

Imam Hashfaki menyatakan,“Perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan pegangan. Begitu juga melihat bulan sabit di siang hari, sebelum zuhur, atau menjelang zuhur. Dalam hal ini, penduduk di wilayah timur harus mengikuti (ru’yat kaum Muslim) yang ada di barat jika ru’yat mereka diterima (sah) menurut syariah.” (Imam al-Hashfaki, Ad-Durr al-Mukhtar wa Radd al-Muhtar, II/131-132).

Penyebab sering terjadinya perbedaan di tengah kaum Muslim di ataranya karena perbedaan metode yang digunakan yaitu metode hisab (perhitungan falak) dan ru’yatul hilal, ada yang perwilayah dan ada yang global. Selain itu, yang sring terjadi karena faktor politis sehingga tiap negara menetapkan keputusan sendiri-sendiri, walaupun sebenarnya negaranya bersebelahan.

Sesungguhnya penyatuan awal dan akhir Ramadhan tidak mungkin bisa diwujudkan kecuali dengan adanya seorang pemimpin yang menyatukan bagi kaum Muslim, yaitu Imam/ Khalifah. Karena, mberbagai wilayah kaum Muslim bagi Khalifah merupakan satu kesatuan. Sehingga hukum yang berlaku di satu wilayah berlaku juga untuk wilayah yang lain.

Pendapat Imam/Khalifah dalam hal ini juga wajib ditaati dan dilaksanakan secara lahir dan batin, sebagaimana yang dinyatakan dalam kaidah syariah: “Perintah Imam/Khalifah wajib dilaksanakan, baik secara lahir maupun batin.

Jika merujuk kepada pendapat para fuqaha yang paling kuat, yaitu satu mathla’ berlaku bagi seluruh dunia, karena satu mathla’ bagi satu wilayah Islam berlaku bagi wilayah Islam yang lain, maka adanya Khilafah untuk menyatukan pendapat-pendapat yang berbeda dalam hal ini hukumnya wajib. Ini sebagaimana yang dinyatakan dalam kaidah syariah:

Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna, kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib.

Jadi, penyatuan awal dan akhir Ramadhan bagi kaum Muslim, berdasarkan pendapat yang kuat di kalangan fuqaha’ itu, hukumnya wajib, sementara penyatuan ini tidak akan mungkin terwujud, kecuali dengan adanya Khilafah. Karena itu adanya Imam/Khilafah untuk menyatukan permulaan Ramadhan dan Syawal juga wajib. Tanpa itu, penyatuan tersebut tidak bisa diwujudkan.

Namun harus diakui. Meskipun Ramadhan demi Ramadhan telah silih berganti, faktanya kemaksiatan di tengah umat masih merajalela. Kezaliman masih menimpa umat Islam. Umat Islam masih terus menjadi korban dari kebuasan dan kerakusan para penjajah.

Di dalam negeri, masih tinggi angka kemiskinan. Harga kebutuhan pokok terus saja melangit, bahkan meroket menjelang bulan Ramadhan. Korupsi makin menjadi. Pengangguran rakyat dan serbuan tenaga kerja asing yang besar-besaran.

Di negeri-negeri kaum Muslim lainnya seperti Rohingya, Suriah, dan Palestina, misalnya, ratusan ribu umat Islam menjadi korban kekejaman para penguasa zalim. Kekayaan alam negeri-negeri Islam juga dirampok oleh negara-negara Barat yang rakus. Sikap Islamophobia pun masih terlihat kuat. Media-media massa liberal terus-menerus membuat cap negatif dan framing jahat terhadap kemuliaan syariah Islam dan kaum Muslim.

Semua hal itu memperlihatkan bahwa pada intinya umat Islam tidak lagi memiliki pelindung yang menjaga nyawa, kehormatan, kemuliaan dan kekayaan mereka. Umat masih belum bersatu mudah tercerai-berai. Apa penyebabnya? Tidak lain karena pelindung yang selama berabad-abad telah melindungi umat Islam telah hilang, yaitu Imam atau Khalifah.

Rasulullah saw dengan tegas menyatakan: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah); orang-orang berperang mengikutinya dan berlindung dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam penjelasannya, Imam as-Suyuthi menyebutkan, Imam (Khalifah) sebagai perisai berarti sebagai pelindung sehingga dapat mencegah musuh menyakiti kaum Muslim, mencegah masyarakat saling menyakiti satu sama lain, juga memelihara kekayaan umat Islam. Khalifah melindungi umat dari seluruh keburukan musuh, pelaku kerusakan dan kezaliman.

Inilah perisai yang harus kita bangun kembali. Oleh karena itu umat Islam tidak boleh melupakan perisai ini. Jika umat melupakannya maka itu adalah musibah di atas musibah. kesedihan, kezaliman, kemiskinan, kesengsaraan dan berbagai keburukan.

Nah, bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang tepat untuk terus menyampaikan Islam. Melakukan dakwah secara politik. Di dalam Islam pun kita semua wajib untuk beraktivitas politik. Aktivitas politik yaitu segala aktivitas yang terkait dengan pengaturan urusan masyarakat (ri’ayah syu’un al-ummah) berdasarkan aturan syariah Islam.

Di bulan Ramadhan kita dapat menempa diri dan masyarakat dalam ketakwaan hakiki dengan bersemangat memperdalam tsaqofah Islam. Kemudian, berusaha sekuat tenaga mengamalkan syariah dalam kehidupan. Tidak hanya sampai di situ, sudah saatnya umat saling bahu-membahu. Melipatgandakan semangat perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam, dengan penerapan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan.

Semoga bulan Ramadhan dapat berakhir dengan kemenangan dan datangnya pertolongan dari Allah SWT. Dan semoga Ramadhan tahun ini, yang terakhir dijalani tanpa adanya seorang Khalifah bagi seluruh kaum Muslimin. Aamiin..[]

*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Pegiat di Komunitas “Muslimah Banua Menulis”

Dimuat di: Remaja Islam Hebat
(http://www.remajaislamhebat.com/2018/05/persatuan-di-bulan-ramadhan.html?m=1)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis.  Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi.  Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)...

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...