Langsung ke konten utama

Berawal dari Rumah

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd*

Kebanyakan remaja tak betah di rumah. Senangnya pergi. Nonton bioskop, konser, atau liburan bareng teman. Kalau pun di rumah, mengurung diri. Main gadget seharian.

Tak dipungkiri, derasnya arus informasi di media elektronik dan internet berdampak pada perubahan prilaku dan gaya hidup. Makin akrab dengan dunia maya. Kadang lupa dengan dunia nyata.

Masa remaja merupakan saat pencarian. Ingin tahu tentang segala sesuatu. Penuh tanya. Bermunculan pula masalah. Pada tahap ini, alaminya remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang terdekatnya, terutama keluarga.

Kala keluarga tidak rukun. Sering terjadi konflik dan pertengkaran. Suasana rumah tak lagi kondusif. Orang tua tidak lagi perhatian. Sangat berdampak pada anak, khususnya remaja.

Meski tidak selalu, tapi faktor keluarga cukup mempengaruhi perkembangan anak. Orang tua menjadi tokoh penting dalam kehidupan anak. Cara mendidik, hubungan orang tua dan anak, sikap orang tua, ekonomi keluarga dan suasana dalam keluarga. Hal itu menentukan keadaan kepribadian anak.

Kebanyakan remaja yang bermasalah, keluarganya pun bermasalah. Terlibat penyalahgunaan obat terlarang, karena keluarganya berantakan. Terlibat gaul bebas, rupanya orang tuanya suka bertengkar. Tidak perhatian.

Tidak ada komunikasi yang baik. Anak enggan bersama orang tua. Mencari tempat pelarian. Salah-salah, terjerumus pergaulan tidak sehat. Tak jarang, menjadi korban kekerasan dan kejahatan.

Rumah semestinya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Di rumah ada keluarga tercinta. Mesti ada penyebab ketidaksukaan tersebut. Apakah rumah sudah nyaman? Penghuninya disambut dengan kehangatan. Atau hanya makian. Kita harus introspeksi diri.

Dalam sistem kapitalis saat ini, fungsi ibu sebagai pengatur rumah tangga cenderung berubah. Terpaksa membantu ekonomi keluarga yang sulit. Walaupun, dalam hati mereka menjerit.

Namun, banyak keluarga yang orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Mengabaikan peran masing-masing. Mengejar materi. Akhirnya, anak tidak terurusi. Dampak lanjutnya, lahirlah generasi tanpa bimbingan dan asuhan maksimal para orang tua.

Dalam Islam, keluarga merupakan pondasi bangunan masyarakat. Keluarga menjadi tempat pembelanjaran tentang kehidupan yang pertama dan utama, sebelum bermasyarakat. Karenanya, bisa dikatakan ketahanan keluarga adalah asas kekuatan bangsa.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (TQS at-Tahrim [66]: 6).

Orang tua wajib membimbing dan mendidik anak dengan baik. Mencurahan kasih sayang. Menanamkan kepribadian Islam. Membekali standar baik dan buruk secara benar. Memenuhi nafkah dan kebutuhan mereka. Serta, memberikan pengawasan dan perlindungan dari pengaruh negatif lingkungan.

Anak akan menyadari, keluargalah tempat kembali. Tempat bercerita. Orang tua juga sahabat baginya. Inginkan yang terbaik bagi anak. Boleh saja beraktivitas di luar, tapi selalu ingat pesan keluarga. Taat orang tua sejalan dengan taat kepada Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda: "Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku." (HR Ibnu Majah).

Perlu kiranya kita upayakan untuk terus-menerus membentengi generasi. Pertama, mengokohkan fungsi keluarga. Ini harus senantiasa diupayakan agar terwujud keluarga-keluarga yang berlandasan ketaatan kepada Allah SWT. Menjadikan syariat Islam sebagai standar berkehidupan. Sehingga setiap keluarga Muslim mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Kemudian, dari keluarga-keluarga tersebut akan lahir para generasi tangguh. Berjiwa pejuang dan pemimpin. Yang mewujudkan masyarakat yang taat syariat.

Kedua, mengembalikan fungsi negara sebagai pilar utama yang menyangga fungsi keluarga. Ini sangatlah urgen. Ketika Khilafah Islamiyah dihancurkan pada tahun 1924, lenyap pula pilar utama bagi peradaban Islam. Dengan runtuhnya Khilafah, kita telah kehilangan pemelihara dan pelindung umat. Padahal, institusi inilah yang mampu menerapkan sistem Islam secara kaffah. Menjamin terpenuhinya kebutuhan keluarga dari segi  ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, dan segenap aspek lainnya.

Gambaran realitas peradaban Islam memang nyaris hilang dari benak kita. Ini karena Khilafah yang menopangnya pun telah tiada. Sebagai gantinya, peradaban Barat sekulerlah yang kini berkuasa hingga ke ranah keluarga. Maka, sangatlah wajar kita semua perlu berupaya untuk mengembalikan hadirnya negara beserta fungsi utamanya tersebut saat ini.

"Ingatlah, setiap orang dari kalian adalah pemelihara dan setiap orang dari kalian bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Pemimpin yang memimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemelihara anggota keluarganya dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemelihara rumah suaminya dan anak suaminya dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertangung jawab atasnya. Ingatlah, setiap orang dari kalian adalah pemelihara dan setiap dari kalian bertanggung jawab atas pemeliharaannya." (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Sebatas sisi keluarga saja tak akan mampu membentengi generasi. Kita perlu penerapan aturan dari Allah SWT secara kaffah dalam kehidupan. Hal ini mengharuskan negara untuk mengambil peran sebagai benteng utama. Karenanya, negara, masyarakat dan kita semua punya tanggungjawab bersama. Bersisian memelihara kokohnya bangunan keluarga.[]

*) Pemerhati Remaja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis.  Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi.  Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)...

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...