Langsung ke konten utama

Pluralisme Generasi

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd

Sosial media sempat heboh dengan status Facebook seorang remaja bertajuk "WARISAN". Lewat statusnya ia menjelaskan, agama dan ras merupakan warisan dari orang tua yang didapat ketika terlahir ke dunia. Ia khawatir ketika sebagian orang mulai memaksakan warisan pribadi itu ke ranah publik. "Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama," tulisnya. "Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara."

Status itu viral karena dianggap bicara soal keprihatinan terhadap kondisi terpecah-belahnya masyarakat akibat mengikuti agama warisan tersebut. Menurutnya, lebih kuat ikatan kebangsaan dibandingkan agama warisan. Maka tak layak mempertentangkan pilihan politik berdasarkan agama dalam publik.

Terlepas dari tulisan yang belakangan disorot keasliannya itu, ada satu yang bisa dibaca, yaitu "pluralisme." Sudah begitu berkembangkah di kalangan generasi kita? Pluralisme bisa masuk dengan mudah, pada generasi masa kini yang bersentuhan dengan berbagai informasi.

Tak pelak, pluralisme ini juga menjalar ke remaja. Karena pluralisme terlanjur menyebar sistemis, baik melalui kurikulum pendidikan sekuler, dan media liberal, serta masyarakat yang membiarkan berkembangnya identitas tidak jelas. Kita lihat, sekularisme pendidikan telah membentuk karakter yang cenderung anti-Islam. Ini terbukti, banyak pelajar Muslim misalnya, justru anti dengan nilai agamanya. Kaum terpelajar juga seolah terpisah dari umat. Mereka sulit memahami persoalan umat karena hilangnya kepedulian dan kesadaran politik Islam. Mereka justru mengadopsi cara berpikir sekular, memisahkan beragama dari berdunia. Ditambah serangan budaya di era digital membuat remaja teralihkan perhatiannya. Dengan adanya transfer pandangan hidup Barat yang bebas dan hedonis, akhirnya membentuk mereka semakin jauh dari pribadi Muslim sejati yang diharapkan.

Ibarat virus berbahaya, terus menyebar tanpa sadar. Sebenarnya seperti apa "Pluralisme" itu? Nah, ayo kita kupas pluralisme secara tuntas.

Pluralisme (bahasa Inggris: pluralism), terdiri dari dua kata plural (= beragam) dan isme (= paham) yang berarti paham atas keberagaman. Namun, definisi dari pluralisme seringkali disalahartikan menjadi keberagaman paham yang pada akhirnya memicu ambiguitas. Pemahaman masyarakat kadang masih kabur dalam memahami antara istilah “pluralitas dan “pluralisme.” Banyak yang menganggap bahwa pluralitas sama dengan pluralisme, akibatnya terjadilah percampuran-adukan antar agama.

Mengutip pendapat Ustadz Muhammad Ismail Yusanto tentang perspektif pluralitas dan pluralisme. Pertama, kita harus membedakan antara pluralitas  dan pluralisme. Pluralitas adalah sebuah keadaan di mana di tengah masyarakat terdapat banyak ragam ras, suku, bangsa, bahasa dan agama. Ini adalah sebuah kenyataan masyarakat sebagai hasil dari proses-proses sosiologis, biologis dan historis yang telah berjalan selama ini. Secara biologis, Allah SWT memang menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan warna kulit, bentuk muka dan rambut  serta bahasa yang berbeda-beda. Sedang secara sosiologis, karena manusia bebas memilih, maka wajar bila manusia mempunyai keyakinan atau agama yang berbeda-beda. Jadi, ragam agama, sebagaimana juga ragam ras, suku, bangsa dan bahasa adalah kenyataan yang sangat manusiawi, karenanya semua harus kita terima sebagai sebuah kenyataan masyarakat.

Sementara itu, berbeda dengan pluralitas, pluralisme adalah paham yang menempatkan keragaman sebagai nilai paling tinggi dalam masyarakat. Pluralisme agama adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Agama apapun dalam pandangan paham ini hanyalah merupakan jalan yang berbeda untuk menuju titik kebenaran yang sama (other way to the same truth). Karena itu, tidak boleh ada klaim kebenaran atau truth claim dari agama manapun bahwa agama itulah yang paling benar, dan juga tidak boleh ada klaim keselamatan atau truth salvation bahwa hanya bila memeluk agama itu saja umat manusia akan selamat dari siksa neraka. Menurut paham ini, karena agama yang ada hanya jalan yang berbeda menuju titik kebenaran yang sama, maka semua agama pasti akan menghantarkan pemeluknya menuju surga.

Jadi, kita harus memandang, bahwa pluralitas dalam arti keragaman ras, suku, agama, bangsa, bahasa dan agama sebagai sesuatu yang harus kita terima. Sedang pluralisme, apalagi pluralisme agama harus kita tolak karena memang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah Islam.

Allah SWT berfirman: "Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah. Mereka tidak memiliki ilmu dan tidaklah orang-orang zalim itu mempunyai pembela." (TQS. al-Hajj:67-71).

Ayat ini menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah SWT. Lantas, bagaimana bisa dinyatakan bahwa Islam mengakui pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama sama benarnya dan menyembah kepada Tuhan yang sama?

Al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi Allah SWT hanyalah Islam. "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." (TQS Ali Imran [3]: 19).

Islam secara gamblang menerangkan bagaimana menyikapi perbedaan. Karena pilihan menuju hidayah diraih dengan proses pemikiran. Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam bagi non-Muslim. Islam hanya menyerukan dakwah dengan hikmah, tanpa kekerasan.

Sejarah pun telah membuktikan bahwa kejayaan Islam dapat tercapai ketika Islam diposisikan sebagai aturan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam tidak pernah merasa asing dengan pluralitas masyarakat. Dalam sejarahnya, semua masyarakat yang dibentuk Islam di masa lalu, termasuk masyarakat Islam pertama yang dibentuk Rasulullah saw di Madinah, selalu adalah masyarakat plural. Risalah Islam diturunkan untuk membawa rahmat kepada seluruh alam, itu artinya rahmat kepada pluralitas masyarakat. Maksudnya, sebuah masyarakat plural, yang terdiri dari ragam ras, suku, bangsa, bahasa dan agama, benar-benar akan mendapatkan kebaikan saat diatur dengan syariat Islam.

Kita ambil contoh, kejayaan Islam pada masa Kekhilafahan di Andalusia, Spanyol yang menorehkan tinta emas, mencerminkan kehidupan kerukunan beragama yang harmonis. Sistem Islam kaffah inilah yang menjadi pilihan dalam mewujudkan kehidupan kerukunan umat beragama yang sangat baik, sepanjang peradaban yang pernah ada. Islam memposisikan non muslim dengan sangat baik. Non muslim juga dianggap sebagai bagian integral dari masyarakat Islam. Meskipun warga non muslim, mereka  tetap dihormati dan tidak boleh didzalimi. Mereka tidak  pernah dipaksa masuk Islam. Khilafah wajib memperlakukan semua rakyatnya dengan adil. Sebagai ahludz dzimmah, mereka berhak mendapatkan perlindungan agama, harta, jiwa dan kehormatannya oleh negara. Dalam sejarah peradaban Islam, warga non muslim bisa hidup aman, damai dan sejahtera di tengah-tengah mayoritas warga muslim. Tidak pernah sekalipun tercatat pemberontakan warga non muslim dalam masyarakat Islam.

Berbeda dengan sekarang, sangatlah wajar jika kita tidak bisa bersentuhan langsung dengan indahnya penerapan syariat Islam. Lingkungan sosial tidak mendukung, media massa pun demikian. Apalagi dalam pendidikan. Pantaslah membuat kabur identitas generasi. Hal ini karena kini belum diterapkannya aturan (syariat) Islam secara sempurna (kaffah).

Maka di sinilah pentingnya negara menerapkan syariat Islam kaffah, Khilafah Islamiyah. Agar identitas umat terjaga, corak kurikulum dan semua perangkat masyarakat terwarnai konsep yang sama (syariat), sehingga akidah generasi pun terjaga dari racun-racun berbahaya sejenis pluralisme. Insya Allah, dalam sistem Islam generasi akan tumbuh menjadi insan takwa penerus peradaban mulia.[]

*) Pemerhati Remaja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis.  Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi.  Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)...

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...