Langsung ke konten utama

Postingan

Dilema Guru di Zaman Now

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (Praktisi Pendidikan) Honorer dianggap menjadi masalah di setiap seleksi CPNS. Banjarmasin, menjadi daerah yang jumlah honorernya melampaui jumlah PNS-nya. Perbandingannya antara 5.620 PNS dengan 6.060 honorer. Terbanyak untuk guru. Ditaksir mencapai dua ribu honorer. Pemerintah pusat sendiri telah melarang perekrutan honorer. Sejak Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) disahkan, nomenklatur tenaga honorer telah dihapuskan. Pemerintah pusat bahkan mengancam memberikan sanksi pemerintah daerah yang melakukan rekrutmen tenaga honorer (kalsel.prokal.co, 11/10/2018). Sementara itu, adanya instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tentang pemerataan guru dijawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel. Kadisdikbud Kalsel, HM Yusuf Effendi menerangkan, Kalsel sulit melakukan pemerataan guru karena kondisinya kini Kalsel justru masih kekurangan guru. Dimana kekurangan guru di Kalsel mencapai 5.714...

Rasa Takut yang Menjadi Penyelamat

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Sekarang sosial media telah menjadi kebutuhan hidup. Untuk berbagi kebaikan, ataupun meningkatkan penghasilan. Selain manfaat yang didapatkan dari sosial media ini, tak dipungkiri efek negatifnya juga dapat dirasakan. Pengaruh media digital kini menjadi salah satu pemicu menjamurnya jalinan asmara via sosmed. Hingga rusaknya rumah tangga bisa diawali dari pertemanan pasangan dengan lelaki/perempuan bukan mahram. Akibatnya, kasus perceraian meningkat tajam, dan anak terlantar pun bermunculan. Sosial media memang kerap membawa efek buruk terhadap kehidupan rumah tangga. Suami/istri tak terurus, anak terabaikan, bahkan cek-cok antar suami istri bisa saja terjadi. Tak jarang pula kita dapati perceraian menjadi pilihan bagi suami istri hanya karena pasangannya telah bermesraan dengan teman-teman dunia mayanya. Mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa begitu mudah mereka melalaikan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim? Tak takutkah mereka akan dosa yang aka...

Pariwisata Mengandung Kesyirikan Mengundang Bencana

Oleh: Fathanah Mukhlisah* Kenapa banyak terjadi bencana yang menimpa negeri ini? Ada gempa bumi di Lombok, hingga yang terbaru tsunami di kota Palu. Ada apakah gerangan? Seorang saksi mata yang selamat, mengatakan ada seribuan warga sedang berada di pinggir pantai anjungan Nusantara, Kota Palu, Jumat (28/9) sore saat tsunami menerjang wilayah tersebut. Masyarakat setempat saat itu sedang menantikan acara pembukaan fetsival ‘Pesona Palu Lomoni’ yang digelar di pantai tersebut (republika.co.id, 29/09/2018). Apa itu Festival budaya Nomoni? Yaitu pagelaran yang diadakan setiap tahun. Salah satu yang ditampilkan adalah upacara adat Baliya Jinja, ritual penyembuhan khas Suku Kaili di Sulawesi Tengah. Ritual ini pada masa ratusan tahun lalu digunakan ketika ada orang yang sakit, dukun melihat penyakit ini disebabkan masuknya roh jahat. Upacara ini pernah dihidupkan di area Kampung Kaili, Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah bersama penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia 201...

Menelusuri Arah Perjuangan Mahasiswa

Oleh: Nor Aniyah , S.Pd * Aliansi Mahasiswa Kalsel melakukan unjuk rasa ke kantor DPRD Kalsel untuk menyoroti kondisi ekonomi dan pemerintahan di Indonesia. Karena sudah sekali demo dan belum ada kepastian, hari Jumat (14/09/2018) mereka kembali ke gedung DPRD Kalsel. Sebelumnya, salah satu orator menyebutkan naiknya dolar dan melemahnya nilai tukar rupiah, adalah kemunduran dan kegagalan pemerintah. Adapun tuntutan Aliansi Mahasiswa tersebut antara lain: 1.) Turunkan Presiden Jokowi; 2.) Menteri perekonomian memperkuat keadaan ekonomi negara; 3.) Turunkan harga BBM; 4.) Stabilkan harga eceran tinggi LPG; 5.) Perbaiki kualitas bahan dalam negeri; 6.) Pecat menteri agama RI; 7.) Hapuskan perpres no 20 tahun 2018, tentang tenaga kerja asing, dan 8.) TNI/Polri tetap netral dalam menghadapi pemilu (banjarmasin.tribunnews.com, 14/09/2018). Akan tetapi, unjuk rasa mahasiswa tersebut diwarnai aksi anarkis. Mahasiswa yang tergabung dari Lingkar Studi Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK), harus b...

Rupiah Anjlok, Harga Barang Melonjak, Rakyat Terpuruk

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Aksi mahasiswa menyampaikan aspirasi dan mengkritisi kebijakan pemerintah mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar terjadi di berbagai daerah. Tak terkecuali di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Aksi mahasiswa digelar di dua titik. Yaitu di Bundaran Jalan Lambung Mangkurat, kemudian berjalan menuju DPRD Kalsel. Namun, sesampainya di gedung dewan, para mahasiswa merasa kesal dan kecewa. Mereka tak ditemui oleh satu pun anggota dewan. Gabungan mahasiswa dari berbagai universitas tersebut membawa berbagai macam poster yang berisi kecaman dan tuntutan seperti, Setelah Rupiah, Apalagi yang Akan Naik. (beritabanjarmasin.com, 07/09/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar kian melemah. Hal ini menimbulkan berbagai dampak kepada masyarakat, terutama pengguna bahan import. Salah satunya seperti tepung terigu, yang saat ini harganya terus mengalami kenaikan. Sebab, bahan baku pembuatan tepung terigu berasal dari gandum, yang didatangkan dari luar negeri. Sep...

Terjadi Genosida Di Rohingya

Oleh: Nor Aniyah , S.Pd * Tim Misi Pencari Fakta Independen PBB telah menerbitkan laporan tentang krisis Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Dalam laporan tersebut dipaparkan tentang penganiayaan dan kekejaman yang dilakukan Tatmadaw (pasukan keamanan Myanmar) terhadap berbagai etnis di Rakhine, termasuk Rohingya. Sekretaris Jenderal Amnesty International Kumi Naidoo mengatakan laporan tim Misi Pencari Fakta Independen PBB telah menambah bukti genosida terhadap Muslim Rohingya. Sebab sebelumnya, lembaganya telah menyusun laporan serupa. Menurutnya apa yang terjadi di Rakhine bukan hanya sekadar konflik. Pembantaian terhadap Muslim Rohingya merupakan tindakan disengaja dan direncanakan. “Ini sama saja dengan genosida dan pembersihan etnis. Oleh karena itu, kami telah mendokumentasikan secara ekstensif kampanye pembersihan etnis militer termasuk pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, kelaparan paksa, deportasi paksa, serta pelanggaran HAM serius lainnya terhadap Rohingya, ...

Moderasi Beragama Mahasiswa, Haruskah?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Kementerian Agama menyampaikan lima pesan tentang moderasi beragama untuk mahasiswa baru di seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se- Indonesia. Pesan ini disampaikan sebagai salah satu materi kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), digelar sejak akhir Juli hingga akhir Agustus 2018. Moderasi beragama menjadi materi wajib sebagai bekal mahasiswa baru menimba ilmu di PTKIN, demikian dijelaskan Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat PTKI Kemenag Ruchman Basori di Banjarmasin, Rabu (29/08). Kemenag memandang materi terkait moderasi beragama penting bagi mahasiswa UIN, IAIN, maupun STAIN. Ada lima pesan yang perlu diketahui mahasiswa baru sehingga dapat menjadi civitas akademika PTKIN moderat. Pertama, Kemenag meminta mahasiswa PTKIN agar belajar Islam pada orang dan sumber otoritatif. Diharapkan dapat memandu mahasiswa memiliki pemahaman agama yang benar dan moderat. Kedua, mahasiswa menjadi insan cerdas dan kritis. Mampu m...