Langsung ke konten utama

Pariwisata Mengandung Kesyirikan Mengundang Bencana

Oleh: Fathanah Mukhlisah*

Kenapa banyak terjadi bencana yang menimpa negeri ini? Ada gempa bumi di Lombok, hingga yang terbaru tsunami di kota Palu. Ada apakah gerangan?

Seorang saksi mata yang selamat, mengatakan ada seribuan warga sedang berada di pinggir pantai anjungan Nusantara, Kota Palu, Jumat (28/9) sore saat tsunami menerjang wilayah tersebut. Masyarakat setempat saat itu sedang menantikan acara pembukaan fetsival ‘Pesona Palu Lomoni’ yang digelar di pantai tersebut (republika.co.id, 29/09/2018).

Apa itu Festival budaya Nomoni? Yaitu pagelaran yang diadakan setiap tahun. Salah satu yang ditampilkan adalah upacara adat Baliya Jinja, ritual penyembuhan khas Suku Kaili di Sulawesi Tengah. Ritual ini pada masa ratusan tahun lalu digunakan ketika ada orang yang sakit, dukun melihat penyakit ini disebabkan masuknya roh jahat. Upacara ini pernah dihidupkan di area Kampung Kaili, Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah bersama penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia 2017 dan Festival Pesona Palu Nomoni II. Dan akan dilaksanakan kembali di tahun 2018 ini
.
Tahun lalu, acara ini dimulai dengan tarian ritual diiringi alunan gindam. Berlangsung sejak matahari terbenam hingga larut malam, di mana para baliya turun mengikuti alunan tersebut dan menyatu dengan roh leluhur. Disiapkan kambing dan ayam untuk dikorbankan. Kambing ini akan ditombak kakinya sebelum akhirnya dipenggal kepalanya, kemudian dilarungkan ke laut. Sesajen dilarung ke laut keesokan paginya bersama replika perahu bercadik dan sebagian lagi dibuang ke gunung.

Saat ini banyak negara di dunia mengembangkan bidang pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. Termasuk Indonesia. Padahal, di sisi lain pariwisata mempunyai dampak negatif bagi  negara, khususnya masyarakat setempat. Dampak itu di antaranya terlihat melalui invasi budaya asing yang mengakibatkan bencana moral. Sementara, sumber daya alam milik rakyat terus dibiarkan dikuasai pihak asing.

Begitulah, sudut pandang kapitalis-sekular. Berbagai cara mereka lakukan hanya demi keuntungan materi semata. Tak peduli akibat buruk yang dapat ditimbulkan. Dan pengembangan pariwisata dengan menghidupkan budaya lokal yang mengandung ajaran animisme-dinamisme (kesyirikan) rawan menuai bencana.

Hakikat Bencana

Bencana pada hakikatnya merupakan bentuk ujian dan peringatan dari Allah SWT atas kerusakan dan kemungkaran yang merajalela akibat perbuatan manusia. Sebagaimana firman-Nya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka itu, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. Ar-Rum: 41).
Para mufassir menjelaskan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat dan dosa. Adapun kemaksiatan terbesar yakni mengabaikan aturan Allah SWT. Sehingga perbuatan maksiat menjadi kebiasaan di masyarakat.

Kekufuran, kemaksiatan, dan perbuatan dosa merupakan penyebab terjadinya kerusakan. Umat harus waspada terhadap pemikiran yang menganggap bencana sebatas peristiwa alam semata, yang terjadi dengan sendirinya. Sebab, pemikiran tersebut merupakan pemikiran sekuler yang memisahkan aturan kehidupan dengan agama. Terkait bencana pun mereka enggan membawa peran Pencipta.

Segala musibah termasuk gempa dan tsunami merupakan bagian dari qadha’ Allah SWT. Dia lah Rabb Yang Maha Kuasa dalam mengubah keteraturan alam semesta. Dia tunjukkan kekuasaan-Nya, agar menyadarkan betapa lemah serta terbatasnya manusia.

Tidak selayaknya kita bermaksiat, menyalahi atau mengabaikan syariah-Nya. Karena Al-Khaliq  tentu tidak suka dengan pelanggaran terhadap syariat.

Pengelolaan pariwisata dalam pandangan Islam bukan sebagai sumber pendapatan negara atau daerah. Apalagi dengan menyuburkan kemaksiatan dan kemungkaran. Karena dalam sistem Islam, kaum Muslim sangat banyak memiliki kekayaan alam. Baik dari hutan dan gunung, kandungan tambang, hasil laut dan lain sebagainya. Dari sinilah pemasukan keuangan negara bisa didulang.

Terkait obyek wisata dari peradaban lain yang memuat kesyirikan, maka tidak ada alasan untuk dipertahankan. Karena itu, obyek wisata seperti ini akan ditutup, dihancurkan atau diubah. Agar tidak bertentangan dengan peradaban Islam.

Pariwisata dalam pandangan Islam hanyalah sebagai taqarrub Ilallah. Menyadari akan kemahabesaran Allah SWT yang berbentuk keindahan alam dan anugerah dari-Nya. Sekaligus wasilah untuk menunjukkan tentang kehebatan Islam dan umatnya yang mampu menghasilkan produk madaniah menjadi bagian dari peradaban Islam
.
Oleh karenanya, untuk mengakhiri ragam bencana marilah kita bertobat kepada Allah. Tinggalkan segala maksiat. Bersegera mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan ketakwaan tentu langit dan bumi akan mencurahkan keberkahan.[]

*) Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

#savepalu #IslamSelamatkanNegeri #KhilafahSolusiBersama #BanuaSyariah #opini #kalsel

--------

Follow, Like, Share, Comment

Muslimah Banua News

@muslimahbanuanews
@muslimahbanuanews
@muslimahbanuanews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Perempuan Mengembalikan Kepemimpinan Islam

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd* Perempuan dan anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Problematika yang kompleks dan memilukan yang dialami kaum perempuan hari ini merupakan buah diterapkan sistem bathil, Kapitalisme-Demokrasi. Fakta yang ada, menunjukkan sistem ini telah mengeksploitasi kaum perempuan di seluruh dunia demi menghasilkan pendapatan negara dan melipatgandakan keuntungan bisnis para Kapitalis.  Tak peduli bila harus mengorbankan kehormatan dan kesejahteraan perempuan. Sistem Kapitalis-Sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk juga kaum perempuan. Sebab, Kapitalisme hanya mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa sekadar dari kontribusi materi.  Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu merupakan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)...

Narkoba Mengganas Tak Kunjung Tuntas

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd Kembali artis dan selebritis kita terjerat narkoba. Mulai dari penyanyi dangdut, pop, pemain sinetron sampai model iklan. Menambah daftar nama-nama korban narkoba. Tak pandang bulu, baik tua atau muda, publik figur dan pelajar. Di perkotaan maupun wilayah pinggiran. Entah berapa banyak lagi kalangan yang akan menjadi korban. Ini menunjukkan fenomena narkoba telah menyebar bak jamur. Akan tetapi, tertangkapnya kalangan artis akhir-akhir ini cukup menarik hati masyarakat. Penangkapan tersebut disinyalir mengandung  pencitraan dan pengalihan issu. Kebanyakan mereka hanya mengaku sebagai pengguna. Lalu di manakah bos besarnya? Secara fakta penyebaran narkoba di Indonesia sangat besar jumlahnya sehingga negeri ini dikenal dengan darurat narkoba. Dari tahun ke tahun kasus narkoba meningkat. Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak dari tahun 1971, sampai sekarang. Namun belum ada upaya yang signifikan dalam mengatasi masalah ini. Seakan tidak serius untuk meny...

Kekerasan pada Guru, Negara (Gagal) Melindungi?

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd "Guru adalah yang digugu dan ditiru." Kalimat ini menggambarkan bahwa guru, sosok yang mulia. Guru berjasa dalam memberikan ilmu dan penanaman nilai pada diri peserta didik. Guru profesi yang istimewa. Sosok guru didaulat sebagai orang tua kedua siswa. Ini sungguh posisi yang terhormat. Mengabdi untuk mendidik generasi negeri. Akan tetapi, hari ini posisi tersebut seakan tergerus. Sekarang para guru merasa sulit mendidik dengan sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Kerap terjadi hal tak mengenakkan selama guru menjalani profesinya. Akhir-akhir ini, kerap terjadi berbagai kasus terkait dunia pendidikan. Di antaranya terjadi kekerasan dan kriminalitas terhadap guru. Seperti yang terbaru, pemukulan terhadap Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar oleh orang tua siswa yang sempat menggegerkan dunia pendidikan kita. Seakan tidak lagi tercipta hubungan kejiwaan antara seorang pendidik dan anak didik. Nampak telah bergeser. Relasi guru-siswa lebih menonjolkan re...